Sabtu, 26 Januari 2013

Seandainya...


Kesan terindah yang ku dapat pertama kali saat duduk bersama di sebuah kafe,hujan turun deras saat itu,menghentikan setiap  langkah untuk keluar pintu.Mengalunkan sebuah lagu penggalauan,tapi aku dan dia menikmati secangkir coklat panas, tidak untuk menikmati lagunya.Disana,kami tertawa sambil melihat indahnya sang fana.Dia sosok seorang laki2 seumurannya,dia lebih dewasa dari seorang aku.Aku yang biasanya memberi saran untuk orang lain,sekarang giliranku yang merasakan apa pentingnya”saran”.Lelaki itu diam dan melihat jam tangan G-shocknya sambil berdiri,mempersilahkan aku berdiri dan menarik pelan kursiku.Kami segera pergi dari kafe itu.Sepanjang perjalanan,aku hanya melihat bayangan seorang lelaki yang nyatanya bisa menjadikanku seseorang perempuan yang lebih baik,aku melihatnya dari kaca mobilnya dengan jatuhnya rintik-rintik hujan.Saling menatap lalu tiba-tiba tertawa kecil,entah apa yang terlihat hanya ketulusan senyuman itu,ketulusan akan cintanya kepada seorang aku.Sebentar lagi kami masuk universitas,universitas yang berbeda,dan sangat jauh jaraknya,ya Bandung-NewYork.

Fajar menghampiri,segera aku pergi ke bandara untuk mengantar sebelum kepergiannya.Sampainya di Soekarno-Hatta,seseorang menunggu ku,memakai jaket kulit coklat,bercelana chino dan terlihat rapih.Aku sejenak diam,dan melihatnya,seperti orang yang ku kenal.Segera aku menghampirinya dan ucapan selamat pagi yang dia berikan waktu itu,tidak akan pernah ku lupa.Sebelum takeoff kami sempat bercengkrama di kafe yang sama namun di tempat yang berbeda,dengan pesanan yang sama pula”hot chocolate”.Diam,seperti bisu aku dengannya,ia mencoba menghiburku,dan meyakinkan ku dengan kata-katanya”aku pasti selalu ada walalupun kita bermil-mil jauh jaraknya,kita tidak perlu takut akan jarak,jangan jadikan jarak sebagai alasan perpisahan,aku akan selalu ada buat kamu,dan saat aku kembali ke tempat ini, aku yakinkan kita masih sama-sama bisa tersenyum berdua”.Sekejap luluh,dan sedih ini makin menjadi-jadi.Pelukan terakhir di tahun itu,ciuman yang ia berikan di kening ini,masih terasa.Sebelum ia pergi,ia tidak memberikan aku hadiah atau apapun, dia Cuma memberiku secarik surat yang tulisannya”aku akan dan selalu sayang,i love you”dengan tinta berwarna pink kesukaanku ia menulisnya,tulisan yang hanya beberapa kata itu,lebih berarti dari sebuah hadiah.Di dalam surat itu juga ia memberiku foto polaroid perpisahan,foto waktu pertama kali kami bertemu.Dibawah foto itu bertuliskan”pertemuan pertama akan selalu menjadi pertemuan terindah sampai pada akhirnya kita akan bertemu lagi :)”.Aku membaca surat itu saat setelah keberangkatannya,ia tidak memberikannya secara langsung,tapi ia menyelipkannya di dompetku.Di mobil, aku hanya bisa menangis,menangis akan indahnya perpisahan jarak ini,menangis akan kerinduan nanti yang kupendam,sambil mendengarkan “a thousand years”dari radio,semakin aku meratapi tahun-tahun yang berat ini sendiri.

Saat aku masuk universitas,banyak teman-teman baru yang kudapat,hingga akhirnya aku mempunyai teman dekat.Seorang wanita dan seorang pria.Mereka berdua sangat unik dan bisa membuatku tidak terlalu memikirkan laki2 di NewYork sana.Setelah 5 bulan lamanya,aku merasa seperti seorang single,nada dering di iPhone ku berbunyi,itu panggilan skype,saat aku tau itu dari laki2 yang selama ini aku tunggu,seperti terbangun dari mimpi tapi nyata,lalu aku yang banyak bertanya di panggilan malam ini,pernyataannya yang membuatku merenung”aku sampai disini langsung memberikan kabar ke mamah kalo aku udah sampai,aku juga SMS kamu,tapi kamu tidak membalas SMS ku,aku mengira kamu sibuk dengan kuliahmu,tapi aku coba buat positive thinking,aku memutuskan untuk mematikan handphone,dan aku juga tidak membuka social network,karna aku disini mau serius belajar,menurut kamu,yang udah aku lakuin salah apa engga?buat kamu sedih ga?aku minta maaf sama kamu ya,udah buat kamu khawatir”ya ampun  rasanya gabisa ngomong apa-apa,dia benar-benar seorang pria dewasa yang hebat walaupun 1 tahun lebih tua umurnya dari aku.Percakapan malam itu,sangat panjang hingga aku terlelap dan di-nina bobokan olehnya.Lalu aku tersadar pagi itu,saat aku lihat handphone ku,ia mengirim pesan lewat skype,yang isinya”aku akan menghubungimu besok”.Aku tidak sabar menunggunya,tapi yang ku sadar hari sudah pagi,dan hari ini ternyata ujian praktek.

Malam pun tiba,aku duduk di meja makan kecil di apartment ku di bdg,malam ini beda dari malam-malam sebelumnya,aku duduk dengan laptop didepanku,dan seseorang yang ku tunggu itu akhirnya datang,dan kami pun berjumpa lewat layar ini.Dia yang sedang sarapan pagi,dan aku yang sedang makan malam walaupun telat,menikmati sama-sama layaknya sedang duduk berhadap-hadapan,ia hanya berkata”selamat makan perempuan cantik-ku”.Setelah usai bercakap panjang,ia berkata lagi”aku akan menghubungimu di akhir tahun ini,karna bulan selanjutnya yang akan datang,aku harus fokus untuk kenaikan semester,inget yang kita bawa kemanapun hanya kepercayaan dan kesetiaan”tiba-tiba saja air mata ini jatuh,entah menangisi apa,seperti tersentuh sangat dalam di bagian hati ini.Lalu melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan untuk kedua kalinya.

Aku menikmati apa yang harusnya ku syukuri dan aku nikmati.Mempunyai 2 sahabat,dia Isyana dan Bagas.Mereka berdua yang selalu menemaniku kuliner,berbelanja,pulang pergi Jakarta-Bandung.Mereka berdua seperti aku dan dia,entah mengapa kemiripan yang maksimal,jika aku melihat mereka berdua,seperti melihat aku dan dia waktu dulu.

Tahun baru pun tiba,aku menunggu laki2 itu menghubungiku,tapi ternyata tidak seperti yang aku bayangkan,dia baru kali ini meng-ingkari kata-katanya namun bukan janjinya,karna ia tidak pernah berjanji sedikitpun dengan ku.

Bulan demi bulan aku jalani dengan kekhawatiran yang mendalam,bertubi-tubi pikiran negatif menyerang benak-ku.Dengan sujud ku dan doaku lah yang bisa mententramkan hatiku.

Saat ada sebuah hari yang aku tidak duga,Isyana bercerita bahwa dia suka dengan bagas dari SMA,dan di lain hari,Bagas pun cerita,bahwa dia suka dengan Isyana.Seperti biasa aku memberi saran layaknya seorang psikolog,dan aku meyakinkan Bagas ,ia akan diterima Isyana.Tapi entah apa yang ada dalam pikiran mereka,masing-masing seperti tidak ingin mempunyai hubungan yang lebih dari sahabat.

Angin bertiup sepoi di balkon lantai 8 apartmentku,aku merenung dan bertanya pada diri sendiri”apa yang sedang ia lakukan disana?sampai ia tidak pernah menghubungiku”Bertubi-tubi pertanyaan yang menyayat hatipun muncul.

Hari itu datang,Isyana mengetahui bahwa Bagas mempunyai sakit jantung yang sudah kronis.Memang sudah 2 minggu,Bagas tidak pernah terlihat di pelipis mataku.Sebelum ia tidak masuk kuliah,ia mengetahui Isyana sedang dekat dengan seorang laki-laki di satu fakultasnya.Lambat laun,Bagas semakin menjauh dari Isyana,dan mungkin dia mengira aku bohong kepadanya,tentang perasaan Isyana sebenarnya.Isyana mengakui,ia dekat dengan laki2 itu hanya untuk mengetahui perasaan Bagas sebenarnya.Tapi mungkin yang dilakukan Isyana itu salah.Isyana bercerita sambil menangis merintih kesakitan,dia juga mempunyai jantung dan segera aku bawa dia ke rumah sakit terdekat.Anehnya kejadian ini aku pernah rasakan sebelumnya,tapi aku tidak mengingatnya sama sekali,dan tidak mungkin aku mengalami kejadian ini sebelumnya secara logis.

Tiba-tiba aku tersadar,dan membuka mata,aku ternyata mimpi,cerita sepanjang itu hanya mimpi?.Lalu aku duduk di pojok sofa di kamarku,dan mengingat lagi mimpiku,aku memang kuliah di Bandung tapi aku tidak mempunyai seseorang laki-laki yang aku sayang.Aku teringat dan berteriak“ADA”.Tapi orang itu sudah tidak tahu kemana,malah aku tidak tahu ia kuliah dimana sekarang dan terakhir kali berpisah sewaktu SMA dan dia sahabat aku sendiri,aku memang suka tapi aku mencoba mengelak dan selalu menunjukkan kepadanya bahwa aku sedang dekat dengan laki-laki lain.Tiba-tiba dia menjauh dan sudah tidak berhubungan atau BBM dengan ku.Sampai sekarang aku tidak tau apa salahku.Lalu aku membuka BBM dan melihat recent updates,aku sangat terkejut semua PM teman-teman SMA-ku “selamat jalan Bagas”,aku terbata-bata dan jantung ku kambuh mendadak,aku mencoba bangkit dan menenangkan diri.Aku segera kembali ke Jakarta,mengingat-ingat rumahnya,bendera kuning dimana-mana di sepanjang jalan kompleksnya.Saat tiba di depan rumahnya,aku mencoba tenang dan sambil mengeluarkan nafas panjang,jalan dengan pastinya,aku pun bertemu dengan mamahnya dan mecoba bertanya sebenarnya apa yang terjadi,ternyata Bagas berkuliah di NewYork,dan tiba-tiba saja jantung koronernya kambuh,anfal,dan meninggal di sana.Sambil aku menunggu jenazahnya datang,aku mencoba diam,diam seribu bahasa,memendam semua air mata ini.Tiba-tiba,mamahnya memberikan aku sebuah kotak dan Bagas sempat berkata kepada mamahnya untuk memberikan kotak itu,jika aku bertemu dengan Bagas nanti.Kotak yang isinya secarik kertas ”aku akan dan selalu sayang,i love you”dengan tinta berwarna pink.Air mata yang ku pendam tadi,sudah tidak bisa ku tampung,air mata ini membanjiri seluruh muka ku,air mata sedih,penyesalan,keharuan dan semuanya tertumpah lewat air mata ini.Ada 1 polaroid di kotak itu,itu foto aku dengannya sewaktu kami pergi berdua ke kafe favorit kami,di bawah polaroid itu tertulis”pertemuan pertama akan selalu menjadi pertemuan terindah sampai pada akhirnya kita akan bertemu lagi :)”.

Aku tersadar lama-lama mimpi ku menjadi nyata,kian lama makin menunjukkan arti mimpi yang menjadi kenyataan.Saat aku melihat jenazah datang ,kaki aku tiba-tiba lemas,berlutut dan akhirnya duduk disampingnya.Melihat Bagas yang kaku tak berdaya,aku teringat dia laki2 yang ceria,saat aku melihat mulutnya yang tertutup rapat,aku teringat dulu senyuman terakhir yang ia berikan.Sekarang kau pergi meninggalkan ku lebih dulu,dan kita sama-sama menyembunyikan penyakit ini,dan kamu tidak pernah memberitahuku tentang perasaanmu.Penyesalan terus mencambuk-ku,seandainya dulu tidak ada kegengsian dalam diriku,jika saja rasa berani datang padaku lebih awal.Aku Cuma bisa melihat laki2 itu sekarang untuk terakhir kalinya,dan aku percaya ia juga sudah mengetahui sekarang,bahwa aku punya rasa untuknya,karna aku tau,dia sedang duduk di samping jenazahnya sendiri,melihat aku merasa kehilangannya.Dan untuk terkahir kalinya,aku diberi kesempatan oleh keluarganya untuk memeluk dan mencium keningnya,seperti apa yang ia lakukan di mimpi ku tadi malam.

Saat aku pulang ke rumah,aku tersadar selama ini yang ia dan aku bawa hanya kesetiaan dan kepercayaan.Polaroid dan kertas itu segera ku masukkan ke dalam dompetku.Lalu aku melihat foto-fotonya setahun yang lalu ,sewaktu kepergiannya ia sempat berfoto menggunakan jaket kulit coklat dan celana chino,dia mirip sekali seperti yang aku impikan.Seandainya kita sama-sama saling menyatakan apa sebenarnya yang kita rasakan,mungkin aku tidak akan serindu ini.


Tapi karna mimpi semalam,aku jadi bisa merasakan bagaimana mempunyai hubungan spesial denganmu.Aku mengingat-ingat apa yang sudah kita lewati bersama,lalu sejenak aku tertawa kecil,dan menjatuhkan air mata ini.Banyak kenangan yang sudah kita lewati,dan sekarang kenangan ini biarkan aku mengenangnya.Lalu aku membuka handphone yang sudah lama tidak aku gunakan,aku membaca SMS yang belum aku baca dari Bagas,yang isinya”hai aku sudah sampai di NewYork” Penyesalan datang lagi untuk kesekian kalinya,dan saat ku buka laptop,sudah banyak callingan skype dari Bagas,hanya karna aku terlalu fokus dengan kuliahku dan ingin melupakannya.Ternyata aku salah selama ini,dalam hatiku”Gas yang harusnya minta maaf itu aku bukan kamu,apa yang udah aku lakuin itu salah”.Yang aku ingat , ”aku pasti selalu ada walalupun kita bermil-mil jauh jaraknya,kita tidak perlu takut akan jarak,jangan jadikan jarak sebagai alasan perpisahan,aku akan selalu ada buat kamu,dan saat aku kembali ke tempat ini, aku yakinkan kita masih sama-sama bisa tersenyum berdua” kata-kata itu yang mebuatku tegar,dan percaya kesetiaan itu akan selalu ada walaupun aku tidak akan pernah bisa melihat dan menyentuhmu lagi Gas :).Mencoba bertahan dalam kesedihan yang mendalam ini, mencoba bangkit lagi,mencoba untuk tidak melupakan tapi lebih ke meng-ikhlaskan.Rasa ini akan selalu ada walaupun kamu telah tiada,Bagas.

Mimpi yang awalnya ku kira mimpi indah berakhir menjadi mimpi buruk.Mimpi yang menjadi kenyataan dan sebagai petunjuk.Tapi dengan mimpi itu,aku bisa merasakan disayang oleh orang yang tidak pernah kuduga,orang yang aku sayang juga,yaitu sahabatku sendiri.Dan kedua sahabat di mimpi itu adalah aku Isyana dan laki2 itu adalah Bagas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar